Lentera ungu
temaniku menulis jejak-jejak sang waktu...
Assalamualaikum...
Kamis, 01 Januari 2026
Ini untukmu...
kamu yang disana menahan lara,
tetap tegarlah memandang hari esok,
tetap kuatkan hati dan mulai menata hari,
tak kan pernah duka itu selamanya,
tak kan mungkin ia hinggap berlama-lama....
untuk kamu,
hei kamu gadis manis yang terus mengusap air mata...
kemarilah...bersandarlah dipundakku,
berbagilah kisah denganku,
aku terus berdoa agar pundak ini selalu nyaman untukmu,
hingga nanti...nanti disaat kau sambut hari bahagiamu...
untuk kamu,
luka itu biarkan saja disana,,,,
biarkan terbang terbawa angin,
hingga nanti yang kau dapati hanyalah kupu-kupu cantik yang menari-nari diatasmu...
dan kaupun akan tersenyum kagum padanya,
untuk kamu,
saat ini yang kumau darimu,
saat ini yang kuingin darimu,
berpikirlah dan berpikirlah...
dengan hati dan pikiran...
dengan logika dan perasaan...
jika mampu membeli dan pantas untuk dibeli...belilah..belilah agar kau tak kekurangan dan tak kesakitan,
tapi bila tidak....masih banyak pengganti yang akan menjadi penawar rindumu,
tak banyak yang ku tau,
tak banyak yang ku mampu,
mendoakanmu adalah caraku menyayangimu,
entah apa yang ada dihati ini...
iba terasa sangat menusuk di hati,
air mata mungkin takkan mampu mewakili,
"ya Allah...Engkau Maha Berkehendak, Engkau Maha Pengasih dan Penyayang,
ya Allah..ijinkan anugerah itu menjadi miliknya...menjadikan dia dalam barisan hambaMu yang Kau cinta dan mencintaiMu,
ya Allah...biarkan dia menikmati indahnya memilikiMu...memujaMu...menghamba padaMu...
ku ingin dengan bangga menyapa dunia...memperkenalkan dia sebagai saudaraku yang ku sayangi...
aku berserah diri kepadaMu ya Rabb...."
Lelaki Pencari Rezeki
Kuperkenalkan padamu wahai dunia,
Seorang ayah dengan beratnya amanah
Pergi mencari rezeki di saat embun masih membasahi
Melintasi jarak ratusan kilo
Tak jarang lelah raga menerpa
Tanpa ragu ia, tetap menegakkan kepala hingga senja menyapa,
Bersama cahaya rembulan yang setia menemani perjalanan pulangnya
Lihatlah wahai dunia,
Masih tergurat letih itu diwajahnya,
Masih belum hilang getaran kendaraaan itu dibadannya,
Ia kembali bangkit mengendarai motornya,
Menuju ibadah yang tak bertepi, mencari rezeki
Banyak doa terpanjat,
Setiap hari terpeluk erat,
Doa itu menjelma nyata,
Bahagia meski ada duka,
Tak akan lagi perjalanan jauh itu dia lalui,
Tak akan lagi letih itu menjadi-jadi,
Teman, ingatlah...
Kita tidak berpisah, kita hanya berjarak
Memberi kesempatan untuk lebih banyak berkarya
Membuka ruang untuk lebih banyak teman
Terima kasih, untuk setiap lelah yang terlupakan
Terima kasih, untuk setiap tawa yang melegakan
(Puisi ini disusun pada bulan Desember 2025, terinspirasi oleh seorang rekan kerja yang menjalani rutinitas Jogja-Semarang-Jogja setiap harinya dan akhirnya dimutasi ke Jogja)
Ruang Hampa
tempe goreng, pisang goreng atau tahu bakso, camilan kesukaannya
ditemani secangkir kopi hitam pahit atau teh manis mondo,
Hhmm...terasa istimewa setiap harinya
Senjata untuk memulai hari
jangan kau beri dia telur, karena pasti ditukar dengan gereh dipiringmu,
tapi kalo indomie goreng,
boleh juga satu katanya
tugas yang mudah sudah biasa
tugas susah sudah pasti selesai juga
kerjakan ya, begitu perintahnya
yang penting sudah berusaha, lanjutnya
Kalau kau tanya tentang marahnya,
Rasanya tak pernah terlihat nyata,
Hanya sesekali chat grup dengan tulisan capsloknya,
sebutnya hanya bercanda
semoga demikian adanya
kami yakin dan percaya
dimanapun berada, akan mudah baginya
dengan ilmu, wawasan, keramahan dan keteguhannya
debu pun akan menjadi emas ditangannya
tapi kini,
hariku tak lagi sama
mungkin akan ada
ruang hampa disana
(Puisi ini disusun pada 17 Juni 2025, terinspirasi dari seorang atasan yang akhirnya harus mutasi ke tempat kerja yang lain)