Kuperkenalkan padamu wahai dunia,
Seorang ayah dengan beratnya amanah
Pergi mencari rezeki di saat embun masih membasahi
Melintasi jarak ratusan kilo
Tak jarang lelah raga menerpa
Tanpa ragu ia, tetap menegakkan kepala hingga senja menyapa,
Bersama cahaya rembulan yang setia menemani perjalanan pulangnya
Lihatlah wahai dunia,
Masih tergurat letih itu diwajahnya,
Masih belum hilang getaran kendaraaan itu dibadannya,
Ia kembali bangkit mengendarai motornya,
Menuju ibadah yang tak bertepi, mencari rezeki
Banyak doa terpanjat,
Setiap hari terpeluk erat,
Doa itu menjelma nyata,
Bahagia meski ada duka,
Tak akan lagi perjalanan jauh itu dia lalui,
Tak akan lagi letih itu menjadi-jadi,
Teman, ingatlah...
Kita tidak berpisah, kita hanya berjarak
Memberi kesempatan untuk lebih banyak berkarya
Membuka ruang untuk lebih banyak teman
Terima kasih, untuk setiap lelah yang terlupakan
Terima kasih, untuk setiap tawa yang melegakan
(Puisi ini disusun pada bulan Desember 2025, terinspirasi oleh seorang rekan kerja yang menjalani rutinitas Jogja-Semarang-Jogja setiap harinya dan akhirnya dimutasi ke Jogja)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar